Beranda Metropolitan Ulama Banten Minta Penyetopan Landmark, Pemkab Pandeglang Bilang Begini

Ulama Banten Minta Penyetopan Landmark, Pemkab Pandeglang Bilang Begini

0
BERBAGI

PANDEGLANG; LENSAMETRO – Beredar pesan  singkat dari Abuya Murtadlo Dimyathi, ulama kharismatik di Banten sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Ulum, Cidahu, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, yang meminta Pemkab Pandeglang menyetop pembangunan landmark senilai Rp3,8 Miliar mendapatkan tanggapan dari pemkab Pandeglang, Senin (8/06/2020)

“Assalamualaikum,  Yang terhormat Bupati Pandeglang. Punten, peringatan kangge pemerintah Pandeglang, khususnya Perhutani. Mohon distop Landmark PANDEGLANG BRI dan VILLA BIRU sebelum azab Allah SWT turun ke  Abuya Murtadlo Dimyathi Cidahu Cadasari,” demikian isi pesan yang beredar di masyarakat.

Beredarnya pesan singkat tersebut mendapat tanggapan dari Pemkab Pandeglang melalui Kabag Humas Pemkab Pandeglang, Tubagus Nandar Suftandar.

Menurutnya ada beberapa hal yang harus disampaikan terkait pembangunan landmark tersebut.

“Landmark tersebut dibangun di atas lahan Perhutani atas inisiasi dari Bank Rakyat Indonesia, Pemkab Pandeglang menyambut inisiasi tersebut,” ujar Tubagus Nandar Suftandar.

Katanya, beberapa persyaratan diantaranya yakni pembiayaan pembangunan tidak menggunakan dana yang bersumber dari APBD. Serta pendirian landmark tersebut harus mendapat persetujuan Perhutani.

“Karena landmark tersebut dibangun diatas lahan yang dikelola oleh Perhutani serta mendapatkan restu masyarakat sekitar,” tukasnya.

Nandat menuturkan, peletakan batu pertama tersebut tidak hanya dihadiri oleh Bupati, pihak BRI, Perhutani tapi juga dihadiri unsur Forkopinda dan juga aesepuh Abuya Muhtadi Dimyati yang langsung memimpin do’a untuk kelancaran acara tersebut.

“Pembangunan landmark tersebut dibangun dengan tujuan memperkenalkan Pandeglang ke masyarakat luar. Karena, rencananya landmark tersebut akan terlihat dari jarak yang cukup jauh,” tukasnya.

Tegasnya, Pemkab Pandeglang berkomitmen untuk menselaraskan pariwisata dengan  norma Islam yang kental atau wisata religi.

“Klarifikasi ini disampaikan, dengan harapan masyarakat pandeglang  khususnya mengetahui proses pembangunan landmark secara lebih utuh,” ucapnya.

Terkait banyaknya pengunjung yang sudah datang ke landmark di masa  pandemi covid-19, Nandar menjelaskan, sudah menghimbau tim gugus tugas bahwa untuk obyek-obyek wisata di kabuapten Pandeglang secara resmi belum dibuka.

“Hanya saja dalam rangka persiapan menghadapi tatanan baru harus tetap melaksanakan protokol covid 19,” katanya. (jir/joe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here